NASEHAT DHAMMA AJARAN LUANGPO INTHAWAI SANTUSSAKO Part 9

Home Articles & News NASEHAT DHAMMA AJARAN LUANGPO INTHAWAI SANTUSSAKO Part 9
NASEHAT DHAMMA AJARAN LUANGPO INTHAWAI SANTUSSAKO Part 9
10 APR 2017, 09:45 WIB
Oleh: Administrator | Article

Telah dibaca 78 kali

25. Ketika telah tiba saatnya (meninggal) bagi diri kita, kita harus memejamkan mata, menerimanya, menerima dengan berani (ksatria), yaitu tidak gelisah. Tariklah kesadaran (sati) menuju ke dalam batin, perhatikan batin, harus ada kesadaran di batin setiap saat.

26. Hiasilah hidup kita agar memiliki nilai, waktu demi waktu berlalu, ayo bangunlah (munculkanlah) nilai-nilai Dhamma (guṇadhamma) agar selalu di batin, dibarengi selalu memikirkan bahwa ‘saya adalah seseorang yang akan melakukan yang terbaik untuk hari ini, karena ketenaran, kekayaan tidak dapat dibawa serta, hanya kebajikan yang dapat membantu ketika meninggal.

27. Disimpulkan bahwa Sang Buddha jenuh akan kelahiran, tidak ingin lahir lagi, jika lahir, akan seperti ini lagi, tidak ada lain ; oleh karena itu Beliau berjuang. Sedangkan kita ini malahan sebaliknya, bagaikan semut merah menggigit anak kecil. Semut merah (semut api)  menggigit anak kecil, begitu digigit, anak itu menangis, anak itu lalu bergeser sedikit ; begitulah kita ini.  Mirip-mirip bahwa ‘tidak sungguh-sungguh jenuh, tidak sungguh-sungguh jenuh terhadap dunia (alam kehidupan), masih memandang bahwa masih ada kebahagiaan pada titik tertentu. Tidak jenuh. Bosan – bosan, ingin-ingin, seperti demikianlah. Jika sudah jenuh, akan terbebas ; itulah para Ariya, Mereka sudah jenuh, tidak melekat, kemudian terbebas dari kekotoran batin (āsava-kilesa). Tetapi kita sekalian, masing-masing merasa jenuh, namun jenuhnya itu tidaklah sama.

(Administrator - Article)