NASEHAT DHAMMA AJARAN LUANGPO INTHAWAI SANTUSSAKO Part 22

Home Articles & News NASEHAT DHAMMA AJARAN LUANGPO INTHAWAI SANTUSSAKO Part 22
NASEHAT DHAMMA AJARAN LUANGPO INTHAWAI SANTUSSAKO Part 22
20 APR 2017, 15:47 WIB
Oleh: Administrator | Article

Telah dibaca 170 kali

66. Bertanyalah pada diri sendiri selalu bahwa ….. cukup belum, memadai belum, benar belum, cocok belum, harus tanya selalu, jika bertanya pada diri sendiri seperti demikian, kita akan berada pada kondisi ‘tidak lengah’ terhadap diri sendiri

67. Kita terlahir, harus berdana, harus melakukan kebajikan, pahala dari berdana, Sang Buddha bersabda, Beliau memberitahukan, Beliau menyampaikan bahwa orang yang melakukan kebajikan, berdana, terlahir di kehidupan manapun, alam manapun, tidak akan kesusahan. Pahala dari berdana merupakan sarana membantu – mendukung kita. Kita semua telah terlahir, lakukan apapun akan maju berkembang, dapat menjadi kaya raya, karena pahala dari mendukung. Tetapi jika tidak senang dalam berbuat bajik, berdana, terlahir di kehidupan mendatang, alam mendatang, akan menjadi orang yang kesusahan, melakukan jual beli juga merosot, karena tidak ada pahala dari berdana. Oleh karena itu kata ‘dana’ ini, kalian selayaknya mengumpulkannya.

 

68. Sīla merupakan dasar dari kebaikan (kebajikan), jika orang telah memiliki sīla, tinggal bersama orang sebanyak apapun, tidak ada ‘akibat buruk’.

 

69. Jikalau minum minuman keras, mabuk sepanjang hari sepanjang malam, bukanlah murid Luangpo ya, jangan panggil Luangpo sebagai Ajahn (guru). Luangpho menjadi bhikkhu yang bagaimana, umat dapat melihatnya, perkataan apapun yang disampaikan, hanya bermaksud agar umat menjadi orang baik, memiliki nilai-nilai (luhur), nilai-nilai dhamma, memiliki sīla dhamma, memiliki perilaku etika yang baik, menjadi penduduk yang baik, berada dimanapun, jangan membuat orang lain gelisah (tidak tenang/panas hati), kita akan menjadi orang dewasa, kita telah mendapatkan pendidikan, mana yang pantas, mana yang tidak pantas, kita menge-tahuinya, harus menghentikan cara pemikiran yang tidak benar “Nisama karaṇaṁ seyyo”. Renungkan terlebih dahulu, barulah melakukan segala sesuatu. Jika kita memiliki perenungan dalam berbuat, dalam berbicara dan berpikir, maka ketenangan akan muncul dalam diri kita selamanya hingga akhir. Ini merupakan ajaran, atau penyampaian bagi bhikkhu, pelajar, murid, umat. Bhikkhu baru yang akan lepas jubah, mempraktekkannya, paling sedikit memiliki lima sī

(Administrator - Article)