NASEHAT DHAMMA AJARAN LUANGPO INTHAWAI SANTUSSAKO Part 20

Home Articles & News NASEHAT DHAMMA AJARAN LUANGPO INTHAWAI SANTUSSAKO Part 20
NASEHAT DHAMMA AJARAN LUANGPO INTHAWAI SANTUSSAKO Part 20
20 APR 2017, 15:41 WIB
Oleh: Administrator | Article

Telah dibaca 109 kali

60. Dhamma yang tertinggi adalah memotong batin, memotong kekotoran batin (kilesa) yaitu memotong batin, memotong nafsu keinginan (rāga), kebencian (dosa) kebodohan batin (moha), ini semua dipotong di batin, bukan di yang lainnya

61. Ketika ayah ibu masih hidup, hanya ingin diri sendiri yang rewel, bergaya ingin itu, ingin ini, membuat ayah ibu sedih akan diri kita. Saat ayah ibu wafat, barulah mengenang jasa kebajikan Mereka, menangis pun tidakmembawa manfaat apa-apa. Jika melakukan hal demikian (mengingat jasa kebajikan orang tua) ketika mereka masih hidup, bagaimana kita akan melakukannya, bagaimana merawat Mereka dengan layak. Ayah ibu kita, ketika Mereka wafat, tidak muncul manfaat apapun. Oleh karena itu, ketika mereka telah memelihara kita, kita balas memelihara, melakukan pekerjaan/tugas Mereka, meneruskan garis keturunan, berperilaku baik agar layak  menerima warisan ketika Mereka telah wafat, melimpahkan jasa kebajikan kepada Mereka. Jangan membuat orang tua berat hati (terbebani), sedih akan kita. Ketika kita membalas jasa ayah ibu, ini merupakan kebajikan yang luar biasa. Sang Buddha mengatakan bahwa siapa pun yang dapat merawat dan melayani ayah-ibunya, orang itu bagaikan melayani arahat. Dapat dikatakan bahwa arahat sudah ada di rumah kita, kita janganlah lengah.

 

62. Tidaklah mungkin sesuatu itu hanya memberikan akibat buruk saja. Demikian pula, tidaklah mungkin sesuatu itu hanya memberi nilai-nilai (luhur) saja. Jikalau ada orang yang memiliki kebijaksanaan, yang akan menggunakannya agar bermafaat, maka akan dapat bermanfaat. Akan menggunakannya menjadi ‘akibat buruk’ juga bisa ; tergantung pada diri kita, akan menggunakannya agar bermanfaat atau ‘berakibat buruk’

(Administrator - Article)