Kepentingan Pribadi Versus Kepentingan Umum

Home Articles & News Kepentingan Pribadi Versus Kepentingan Umum
Kepentingan Pribadi Versus Kepentingan Umum
08 JUL 2016, 20:57 WIB
Oleh: Administrator | Article

Telah dibaca 163 kali

Pada umumnya orang lbh mendahului kepentingan pribadi  dari pada kepentingan umum.

Tapi para bijaksanawan lebih mendahului kepentingan umum, daripada kepentingan pribadi.

Seorang Bodhisatta ketika dia hendak menjadi makhluk agung harus melakukan 5 kedermawanan agung di antaranya meninggalkan istri, anak, hartanya, organ tubuh, dan Nekkhamma/ melepas keduniawian.

Mungkin bagi orang yg tdk mengetahui apa yg dilakukan Bodhisatta ini sebuah bentuk melepas tanggung jawab.

Sebenarnya apa yg dilakukan oleh Bodhisatta/calon Buddha ini adalah mencari obat penderitaan (kelahiran berulang-ulang).

Setelah menemukan obat ini beliau bukan hanya menyelamatkan keluarganya saja (dari kelahiran berulang-ulang), tapi untuk kepentingan semua makhluk.
Jadi tdk benar jika ada yg mengatakan bahwa seorang Bodhisatta tdk bertanggung jawab.
Hanya orang bijaksana yg bisa mendahulukan  kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Seorang perumah tangga tidak bisa melakukan kepentingan umum sepenuhnya karena mereka terbelenggu oleh sebuah ikatan keluarga, beda dng mereka yg melakukan Nekkhamma.

Guru Agung mengatakan ada 4 orang yg perlu diperhatikan, jika kita berbuat baik kepada mereka maka akan menjadi ladang dalam menanam jasa kebajikan, tapi jika kita berbuat tidak baik terhadap mereka, maka tdk sedikit karma buruk yg kita dapatkan. Siapa mereka?
1. Buddha.
2. Siswa Buddha.
3.ibu.
4. Ayah.
Begitu jg di dalam Mangala Sutta dikatakan:
~ Membantu ayah dan ibu, menunjang anak dan istri, adalah berkah utama.
~ Berdana , MELAKUKAN KEBAJIKAN, menyokong sanak saudara adalah berkah utama.

Ada sebuah kesalahan jika dilakukan terhadap 5 macam orang:

1. Membicarakan tentang keyakinan terhadap orang yg tidak mempunyai keyakinan.

2. Membicarakan tentang kebijaksanaan terhadap orang yg tidak mempunyai kebijaksanaan.

3. Membicarakan tentang pembelajaran terhadap orang yg tidak terlatih.

4. Membicarakan tentang kedermawanan terhadap orang yg jahat.

5. Membicarakan tentang pengetahuan terhadap orang yg dungu.

Dukkhata Sutta
AN iii : 181

Jika kita tidak mau melakukan kebajikan, setidaknya Jangan menghalang-halangi orang lain untuk berbuat kebajikan.

Kalyana Mitta Dhamma.

(Administrator - Article)